KORBAN SEBAGAI HARMONINSASI HUBUNGAN ATAU KORBAN SEBAGAI HARMONINSASI KEKUATAN
Abstract
Tujuan peneltian ini adalah menganalisa korban sebagai harmonisasi hubungan atau
Korban sebagai Harmonisasi Kekuatan. Ada dua pengertian pokok pada judul tersebut di
atas. Pertama, korban sebagai harmonisasi hubungan mengandung pengertian penyatuan
relasi antara Allah dan manusia Dalam lingkup teologi, Kristuslah yang memprakarsai relasi
antara Allah dan manusia. Kedua, korban sebagai harmonisasi kekuasaan mengandung
pengertian penyatuan relasi di antara para pihak penguasa, para elit bangsa, golongan
dalam sebuah paham ideologi negara dimana dalam lingkup politik manusialah yang
memprakarsai relasi kekuasaan itu. Dengan pengertian judul di atas penulis bermaksud,
mengkaji kekuatan kasih dibalik pengorbanan demi harmonisasi suatu relasi melalui suatu
kajian teologi. Dengan demikian biisa dipahami bahwa kecenderungan di mana kebanyakan
orang memilih, bahkan gerejapun demikian memilih untuk tidal, menggunakan kekerasan
ini dikarenakan oleh situasi pada pihak korban itu sendiri tidak berdaya Lingkup komunitas di
mana mereka berada senantiasa menjadi acuan politik dari pihak penguasa. Kepentingan
pihak penguasa dengan komunitas ketika tidak sebanding, maka unsur memasrahkan diri
menjadi dorninan dalam perilaku manusia. Oleh karena itu, sikap seperti ini harus dapat
dikatakan sebagai sikap yang hati-hati. Kesetiaan Yesus, ketaatan Yesus bukan sikap apatis,
tetapi dinamis. Ada unsur agresifitasnya tetapi bukan dengan cara kekerasan melainkan
dengan cara membuka selubung yang menutup mata banyak umat. Saya pikir gerejapun
demikian,bahwa ia tidak terbawa karena anggapannya sebagai minoritas atau mayoritas
sekalipun, tetapi paling tidak ia dapatĀ· memberi jawaban yang tidak meragukan umat untuk
terus berjalan ke depan. Katakan ya, Ataupun Tidak.




