PERAN KONEKTIVITAS DAN AKSESIBILITAS SPASIAL DALAM PENGUATAN DESTINASI WISATA SEJARAH BIAK NUMFOR

  • Anna Maria Labok Universitas Sains dan Teknologi Jayapura
Keywords: Konektivitas spasial, Aksesibilitas, Wisata sejarah, Perang Dunia II, Biak Numfor

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran konektivitas dan aksesibilitas spasial dalam penguatan destinasi wisata sejarah Perang Dunia II di Kabupaten Biak Numfor. Wilayah ini memiliki beragam situs peninggalan sejarah yang tersebar pada klaster darat dan laut, namun pemanfaatannya sebagai destinasi wisata masih bersifat parsial dan belum terintegrasi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif–spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) yang didukung analisis deskriptif untuk memetakan sebaran situs sejarah, menilai tingkat konektivitas jaringan transportasi, serta mengevaluasi aksesibilitas menuju dan antar lokasi wisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola sebaran situs wisata sejarah membentuk jaringan multi-klaster yang menuntut pengembangan berbasis keterhubungan spasial. Bandara Frans Kaisiepo berperan sebagai simpul utama transportasi, namun konektivitas antar situs sejarah, khususnya antara klaster darat dan laut, masih terbatas dan belum didukung oleh rute wisata tematik yang terintegrasi. Dari sisi aksesibilitas, situs darat relatif lebih mudah dijangkau dibandingkan situs bawah laut, meskipun masih menghadapi keterbatasan infrastruktur, fasilitas pendukung, dan sistem informasi. Temuan ini menegaskan bahwa konektivitas dan aksesibilitas merupakan faktor kunci dalam membangun sistem destinasi wisata sejarah yang terpadu, berkelanjutan, dan berdaya saing. Penelitian ini berkontribusi dalam memperkaya kajian perencanaan wilayah dan pariwisata, khususnya terkait integrasi tata ruang, transportasi, dan pengelolaan wisata sejarah di wilayah kepulauan.

References

[1] Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Biak Numfor, Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (RIPDA) Kabupaten Biak Numfor, Biak: Bappeda Kabupaten Biak Numfor, 2020.
[2] B. Prideaux, “The role of the transport system in destination development,” Tourism Management, vol. 21, no. 1, pp. 53–
63, 2000.
[3] Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Biak Numfor, Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Biak Numfor Tahun 2011–2031, Biak: Bappeda Kabupaten Biak Numfor, 2011.
[4] K. T. Geurs and B. van Wee, “Accessibility evaluation of land-use and transport strategies: Review and research directions,” Journal of Transport Geography, vol. 12, no. 2, pp. 127–140, 2004.
[5] L. A. Cai, “Cooperative branding for rural destinations,” Annals of Tourism Research, vol. 29, no. 3, pp. 720–742, 2002.
[6] E. Inskeep, Tourism Planning: An Integrated and Sustainable Development



Approach, New York: Van Nostrand Reinhold, 1991.
[7] C. M. Hall and S. J. Page, The Geography of Tourism and Recreation: Environment, Place and Space, 4th ed., London: Routledge, 2014.
[8] D. J. Timothy and S. W. Boyd, Heritage Tourism, Harlow: Pearson Education, 2003.
[9] S. Millar, “Stakeholders and community participation in heritage tourism,” Annals of Tourism Research, vol. 33, no. 4, pp. 1254–
1276, 2006.
[10] World Tourism Organization (UNWTO), Tourism and Culture Synergies, Madrid: UNWTO, 2018.
Published
2026-08-22