DINAMIKA SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT YAHUKIMO DALAM SEKTOR INFORMAL PERKOTAAN: STUDI KASUS KOTA JAYAPURA

  • Normalia Ode Yanthy Universitas Sains dan Teknologi Jayapura
  • Kalemon Weya Universitas Sains dan Teknologi Jayapura
  • Musfira Musfira Universitas Sains dan Teknologi Jayapura
Keywords: sektor informal, perencanaan wilayah dan kota, ekonomi perkotaan, migrasi Yahukimo, struktur ruang, Kota Jayapura.

Abstract

Penelitian ini menganalisis dinamika sosial ekonomi masyarakat Yahukimo yang bekerja dalam sektor informal Kota Jayapura, dengan fokus pada karakteristik demografis, pola usaha, persebaran spasial, serta tantangan dan modal sosial yang membentuk strategi bertahan hidup mereka. Migrasi masyarakat Yahukimo menuju Jayapura dipahami sebagai respons terhadap ketimpangan wilayah, keterbatasan infrastruktur, dan minimnya peluang ekonomi di daerah asal. Hasil survei menunjukkan bahwa mayoritas pelaku usaha berada pada usia produktif (20-40 tahun), berpendidikan dasar (70%), serta telah bermukim lebih dari enam tahun, menandakan migrasi permanen dan pembentukan jaringan sosial yang stabil.

Sektor informal menjadi arena adaptasi utama bagi masyarakat Yahukimo akibat rendahnya akses terhadap pekerjaan formal. Sebanyak 40% responden bekerja sebagai pedagang kaki lima dan 30% sebagai penjual makanan, dengan persebaran usaha terkonsentrasi di pasar tradisional (45%) dan pinggir jalan (35%). Aktivitas ini tidak hanya berfungsi sebagai sumber penghidupan, tetapi juga sebagai ruang negosiasi identitas dan pembentukan micro-territories berbasis etnis dalam struktur ruang Kota Jayapura. Perempuan Yahukimo memainkan peran signifikan dalam ekonomi subsisten urban melalui perdagangan makanan dan kerajinan (termasuk noken), sehingga berkontribusi pada keberlanjutan ekonomi rumah tangga sekaligus pelestarian budaya.

Temuan utama penelitian menunjukkan bahwa modal sosial Yahukimo, terutama melalui jaringan kekerabatan, solidaritas etnis, dan pinjaman keluarga menjadi mekanisme penting dalam mempertahankan usaha, mengingat 55% modal awal berasal dari tabungan pribadi dan 25% dari jaringan internal. Tantangan struktural meliputi keterbatasan modal (40%), persaingan tinggi (30%), minimnya fasilitas (20%), dan tekanan regulasi (10%). Kondisi ini menegaskan perlunya tata kelola kota yang lebih inklusif, pengakuan terhadap sektor informal, revitalisasi pasar rakyat, serta kebijakan penataan ruang yang mendukung keberlanjutan ekonomi migran Papua.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa sektor informal tidak hanya menopang ekonomi masyarakat Yahukimo, tetapi juga membentuk interaksi sosial-budaya dan struktur ruang Kota Jayapura. Temuan ini memberikan kontribusi penting bagi studi perencanaan wilayah dan kota, khususnya terkait urban informalities, migrasi internal Papua, dan inklusivitas kebijakan kota.

References

[1] N. B. Akhmad, F., Tanjung, R. H. R., Poli, A. I., Ali, A., & Kumoro, “Ethnicity, identity, and the politics of space in urban society of Jayapura City,” Adv. Soc. Sci. Res. J., vol. 6, no. 2, 2019, doi: 10.14738/assrj.62.5397.
[2] P. Suhartini, N., & Jones, “An introduction to Jayapura, Papua, Indonesia.,” in rban governance and informal settlements: Lessons from the city of Jayapura, Indonesia, Springer., 2019. [Online]. Available: https://doi.org/10.1007/978-981-13-0194-1
[3] J. Timisela, M., Kameo, D. D., Rupidara, N. S., & Siahainenia, “Local Papuan migrants: Wamena migrants in an urban city of Jayapura, Papua-Indonesia,” J. Reg. City Plan., vol. 31, no. 1, pp. 25–40, 2020.
[4] R. Ap, A. R., Tumober, R. T., & Safitri, “Migrasi Orang Biak di Kota Jayapura,” Kaji. Ilmu Budaya dan Perubahan Sos., vol. 5, no. 1, pp. 88–104, 2021, [Online]. Available: https://doi.org/10.22219/satwika.v5i1.15835
[5] & F. Anjas, A. J. R., Madris, “Risen migrant workers in the informal sector,” nternational J. Sci. Res., vol. 8, no. 1, pp. 140–142, 2019, [Online]. Available: https://doi.org/10.36106/ijsr.8.1.140
[6] E. E. Chotim, “Subsistence economy and the Papua women trader marginalization in the Indonesia-Papua New Guinea border trade region,” J. Ilmu Sos. Mamangan, vol. 9, no. 1, pp. 1–16, 2020, [Online]. Available: https://doi.org/10.22202/mamangan.v9i1.2992
[7] L. T. Wambrauw, “Indigenous entrepreneurship by Papuan women in the informal agricultural sector in Manokwari,” 2013. [Online]. Available: https://researcharchive.lincoln.ac.nz/items/945bb258-bf65-44f3-af1d-5bb5a7ab6bff
[8] V. Resosudarmo, B. P., Napitupulu, L., Manning, C., & Wanggai, Working with Nature against Poverty Development, Resources and the Environment in Eastern Indonesia. ISEAS Publishing, 2009. [Online]. Available: https://doi.org/10.1355/9789812309600
[9] I. Hidayati, “Keputusan migrasi pekerja muda ke Kota Sorong-Papua Barat.,” Masy. Indones., vol. 45, no. 2, pp. 158–171, 2019, [Online]. Available: https://doi.org/10.14203/jmi.v45i2.838
[10] J. D. Creswell, J. W., ; Creswell, Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches. SAGE, 2018.
[11] J. Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, Qualitative data analysis: A methods sourcebook, 4th ed. SAGE Publications, 2020.
[12] M. Q. Patton, Qualitative research & evaluation methods: Integrating theory and practice, 4th ed. SAGE Publications, 2015.
[13] Sugiyonoc, Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta, 2017.
[14] R. K. Yin, Case study research and applications: Design and methods. SAGE Publications., 2018.
[15] N. K. Denzin, “Triangulation 2.0.,” J. Mix. Methods Res., vol. 6, no. 2, pp. 80–88, 2012, [Online]. Available: https://doi.org/10.1177/1558689812437186
[16] B. K. Yahukimo, “Kabupaten Yahukimo dalam Angka 2023,” 2023.
[17] K. Perhubungan, “Bandara Nop Goliat Dekai (IATA: DEX; ICAO: WAVD).”
[18] K. H. Widjojo, M. S., Erman, E., Pamungkas, C., Wibowo, I., & Dewi, apua road map: Negotiating the past, improving the present and securing the future. KITLV Press, 2010. [Online]. Available: https://doi.org/10.26530/OAPEN_379272
[19] Trip.com, “Flights from Dekai (DEX) to Jayapura (DJJ).” [Online]. Available: https://id.trip.com
[20] Rome2Rio, “Dekai to Jayapura distance (air travel route).” [Online]. Available: https://www.rome2rio.com/
[21] T. Pekei, Cermin noken Papua: Perspektif kearifan mata budaya Papuani. Ecology Papua Institute. Ecology Papua Institute., 2013.
[22] E. L. Marit, “Noken dan perempuan Papua: Analisis wacana gender dan ideologi.,” Melanes. J. Ilm. Kaji. Bhs. dan Sastra, vol. 1, no. 1, pp. 33–42, 2018, [Online]. Available: https://doi.org/10.30862/jm.v1i1.736
Published
2025-12-31