Konflik Internal Partai Politik studi tentang Dualisme Kepemimpinan Partai Hanura
Abstract
Penelitian ini menghasilkan implikasi berupa Dinamika Politik Hanura mengalami keterpurukan pada Pemilu Legislatif tahun 2019 dengan penurunan perolehan suara yang drastis yang menghasilkan perolehan suara sebesar 1,54 % sedangkan tahun 2014 Hanura mendapatkan perolehan suara dengan presentase sebesar 5,26% suara.
Judul ini didesain dengan menggunakan metode Studi Kepustakaan. Pengumpulan data bersumber dari dua sumber yaitu, sumber primer yang digunakan ialah AD/ART Partai Hanura dan wawancara Ketua Sekretariat DPD Hanura Provinsi Papua sebagai triangulasi sumber data yaitu membandingkan informasi, sumber sekunder yang digunakan bersumber dari pemberitaan media massa, majalah, dan jurnal-jurnal terkait.
Hal tersebut dipicu oleh penyebab konflik individual yaitu dengan melihat karakteristik pribadi pemimpin dalam hal ini pimpinan partai yang dinilai sering menebar ancaman kemudian dari penyebab kolektif yang dilihat dari adanya interaksi sosial yang buruk antar anggota yang membentuk dua Kubu dengan perbedaan kepentingan dan berujung pada sengketa dualisme kepengurusan.
Lemahnya pelembagaan politik dalam manajemen konflik sesuai dengan AD/ART menunjukan bahwa lemahnya dimensi kesisteman, kemudian migrasi kader ke partai lain menunjukan lemahnya dimensi identitas nilai sentralistik yang terjadi dalam pengambilan keputusan tingkat daerah merupakan indikasi lemahnya partai dalam dimensi Otonomi. Popularitas Hanura tidak mempengaruhi elektabilitas Hanura ditengah masyarakat sehingga dimensi Citra publik masih belum cukup kuat. Perlu adanya perbaikan AD/ART secara komperhensif dan konsolidasi antara elite dan pengurus partai dan penanaman ideologi partai yang kuat sehingga dapat menciptakan soliditas dan loyalitas kader.