http://ojs.ustj.ac.id/dinamis/issue/feedDINAMIS2025-12-31T12:01:48+09:00Jusuf Haurissajhaurissa@ustj.ac.idOpen Journal Systems<p>Jurnal DINAMIS merupakan jurnal ilmiah yang pertama kali diterbitkan oleh Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M). Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ini sebagai media penyebarluasan informasi ilmu pengetahuan dan teknologi rumpun ilmu teknik sipil dan perencanaan, teknologi industri dan kebumian, informasi, kesehatan dan lingkungan, ekonomi, sastra, sosial dan politik.</p>http://ojs.ustj.ac.id/dinamis/article/view/1571SISTEM PEMBERIAN PAKAN IKAN OTOMATIS BERBASIS INTERNET OF THINGS2025-12-27T23:45:50+09:00Marla Sheilamita Shalin Pietermarlasheila.pieter@gmail.comNuur Ilham Siguntusiguntunurilham@gmail.comEvanita Veronica Manullangeva.manullang@gmail.com<p>Pemeliharaan ikan hias di akuarium sering terkendala oleh ketidakteraturan jadwal pemberian pakan, terutama ketika pemilik beraktivitas di luar rumah dalam waktu lama, yang dapat berdampak pada kesehatan ikan. Penelitian ini bertujuan merancang dan membangun sistem pemberian pakan ikan otomatis berbasis Internet of Things (IoT) dengan ESP32-CAM sebagai pusat kendali, yang terintegrasi dengan website untuk penjadwalan pakan dan chatbot Telegram untuk notifikasi serta pemantauan. Metode penelitian meliputi pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi literatur; perancangan sistem menggunakan arsitektur komunikasi dan flowchart; implementasi perangkat keras (motor servo dan sensor ultrasonik) serta perangkat lunak (website–Firebase dan bot Telegram); kemudian pengujian fungsional menggunakan black-box testing. Hasil pengujian menunjukkan sistem mampu mengeksekusi jadwal pemberian pakan secara otomatis; pada 8 kali uji penjadwalan, motor servo mulai bekerja dengan selisih 7–48 detik dari waktu jadwal, sementara notifikasi “pakan sudah diberikan” terkirim pada rentang 18–60 detik setelah waktu jadwal. Dosis pakan yang dikeluarkan servo berada pada kisaran 12–17 butir per putaran 90°, sehingga total pakan per satu siklus penjadwalan berada pada kisaran 27-31 butir. Sistem juga mendeteksi kondisi pakan menipis; notifikasi peringatan muncul ketika sisa pakan <30% dengan delay 5–29 detik. Fitur pemantauan akuarium melalui ESP32-CAM berhasil mengirim video dengan delay 32 73 detik dan durasi video 11–25 detik. Secara keseluruhan, sistem lebih efisien dibanding pemberian pakan manual karena mendukung pemberian pakan terjadwal, notifikasi otomatis, dan pemantauan jarak jauh bagi pemilik akuarium.</p>2025-12-23T16:45:47+09:00##submission.copyrightStatement##http://ojs.ustj.ac.id/dinamis/article/view/1603PENERAPAN STANDAR TM-5-623 DALAM PENILAIAN PAVEMENT CONDITION INDEX2025-12-27T11:34:16+09:00Made Budi Purnama Putrambp.putra@unipa.ac.idIndra Birawaputrambp.putra@unipa.ac.id<p><em>The pavement condition along Drs. Esau Sesa Road in Manokwari exhibits various forms of distress that have the potential to reduce the overall level of service. This situation necessitates an objective assessment to determine the existing severity of pavement deterioration and to identify appropriate maintenance needs. This study aims to evaluate pavement conditions using the Pavement Condition Index (PCI) method based on the TM-5-623 standard and to identify the predominant types of distress occurring in each sampling unit. The assessment was conducted through visual surveys on 42 sampling units, each covering an area of 300 m², followed by measurements of distress types and severity levels, calculation of density (%), deduct values, and determination of PCI scores for each unit. The analysis revealed variations in pavement condition across both lanes, with PCI values ranging from very poor to excellent. The most prevalent types of distress include polished aggregate, alligator cracking, patching and utility cut patching, as well as weathering and ravelling distresses largely influenced by traffic loading and climatic factors. The non-uniform distribution of pavement deterioration indicates a need for differentiated maintenance strategies for each sampling unit, particularly those with low PCI scores. These findings provide an objective foundation for local government agencies to plan periodic maintenance and rehabilitation efforts, thereby supporting the sustainable improvement of roadway service quality.</em></p>2025-12-26T00:00:00+09:00##submission.copyrightStatement##http://ojs.ustj.ac.id/dinamis/article/view/1580SEBARAN SPASIAL PEDAGANG KOMODITAS LOKAL DAN JANGKAUAN LAYANAN PASAR YOUTEFA: KAJIAN SPASIAL DAN EKONOMI LOKAL2025-12-26T08:07:16+09:00Normalia Ode Yanthynormaliaodeyanthy@gmail.comEkiles Erelaknormaliaodeyanthy@gmail.comAnna M Laboknormaliaodeyanthy@gmail.com<p><em>Youtefa Market is a key node of the local economy in Jayapura City, accommodating traders of local commodities and Papuan handicrafts. This study aims to: (1) map the spatial distribution of traders’ places of origin, (2) analyze the market’s service coverage, and (3) identify the main factors influencing traders’ choice of selling location. A descriptive quantitative approach was employed through trader surveys, field observations, and documentation, which were then analyzed using Geographic Information System (GIS)–based spatial analysis and network analysis. The results show that Youtefa Market serves areas extending to agrarian hinterlands and coastal regions, with the highest concentration of traders located within a radius of less than 5 km from the market. Travel time analysis indicates that most traders spend less than 30 minutes to reach the market, while those from agrarian and coastal areas experience longer travel times and higher transportation costs. Youtefa Market is chosen due to a combination of good accessibility, large potential customer base, relatively low operating costs, and strong social networks, particularly among Indigenous Papuan traders.</em></p> <p><em>These findings confirm the role of Youtefa Market as a regional distribution center as well as a socio-economic infrastructure that connects agrarian and coastal production systems with urban consumption. Consequently, policies related to market management and potential relocation should be based on spatial service-area analysis, improved accessibility, and secure trading spaces to ensure the sustainability of micro-enterprises and local economic networks.</em></p>2025-12-26T07:12:06+09:00##submission.copyrightStatement##http://ojs.ustj.ac.id/dinamis/article/view/1551BRIKET RAMAH LINGKUNGAN DARI BATANG PINANG: PENGARUH TEKANAN HIDROLIK TERHADAP KECEPATAN PEMBAKARAN2025-12-31T12:00:37+09:00Jefri Wainewayne@gmali.comJusuf Haurissajhaurissa@yahoo.comMathina Minimarthinamini@gmail.com<p>This study aims to analyze the effect of hydraulic pressure variation on the thermal characteristics of briquettes made from areca palm stem waste (Areca catechu), particularly in terms of material density, heat conduction rate, and calorific value. The briquettes were molded in a box shape using pressures of 60, 80, and 100 kg/cm². The test results show that increasing the pressing pressure is directly proportional to the increase in the heat conduction rate (q), which were 0.2635 W, 0.2772 W, and 0.2867 W, respectively. In parallel, the calorific value also increased from 5124 kcal/kg to 5245 kcal/kg. This is due to increased density and reduced porosity of the material under high pressure, which strengthens interparticle bonding and enhances heat transfer paths. The analysis indicates a trend of diminishing thermal performance gains at the highest pressure level, suggesting a saturation point in material compaction. The study concludes that a pressing pressure of 100 kg/cm² yields optimal thermal results and improves the combustion quality and energy efficiency of areca palm briquettes. These findings contribute to the utilization of local biomass as an environmentally friendly and sustainable alternative energy source.</p>2025-12-31T11:43:56+09:00##submission.copyrightStatement##http://ojs.ustj.ac.id/dinamis/article/view/1579DINAMIKA SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT YAHUKIMO DALAM SEKTOR INFORMAL PERKOTAAN: STUDI KASUS KOTA JAYAPURA2025-12-31T12:01:48+09:00Normalia Ode Yanthynormaliaodeyanthy@gmail.comKalemon Weyanormaliaodeyanthy@gmail.comMusfira Musfiranormaliaodeyanthy@gmail.com<p>Penelitian ini menganalisis dinamika sosial ekonomi masyarakat Yahukimo yang bekerja dalam sektor informal Kota Jayapura, dengan fokus pada karakteristik demografis, pola usaha, persebaran spasial, serta tantangan dan modal sosial yang membentuk strategi bertahan hidup mereka. Migrasi masyarakat Yahukimo menuju Jayapura dipahami sebagai respons terhadap ketimpangan wilayah, keterbatasan infrastruktur, dan minimnya peluang ekonomi di daerah asal. Hasil survei menunjukkan bahwa mayoritas pelaku usaha berada pada usia produktif (20-40 tahun), berpendidikan dasar (70%), serta telah bermukim lebih dari enam tahun, menandakan migrasi permanen dan pembentukan jaringan sosial yang stabil.</p> <p>Sektor informal menjadi arena adaptasi utama bagi masyarakat Yahukimo akibat rendahnya akses terhadap pekerjaan formal. Sebanyak 40% responden bekerja sebagai pedagang kaki lima dan 30% sebagai penjual makanan, dengan persebaran usaha terkonsentrasi di pasar tradisional (45%) dan pinggir jalan (35%). Aktivitas ini tidak hanya berfungsi sebagai sumber penghidupan, tetapi juga sebagai ruang negosiasi identitas dan pembentukan micro-territories berbasis etnis dalam struktur ruang Kota Jayapura. Perempuan Yahukimo memainkan peran signifikan dalam ekonomi subsisten urban melalui perdagangan makanan dan kerajinan (termasuk noken), sehingga berkontribusi pada keberlanjutan ekonomi rumah tangga sekaligus pelestarian budaya.</p> <p>Temuan utama penelitian menunjukkan bahwa modal sosial Yahukimo, terutama melalui jaringan kekerabatan, solidaritas etnis, dan pinjaman keluarga menjadi mekanisme penting dalam mempertahankan usaha, mengingat 55% modal awal berasal dari tabungan pribadi dan 25% dari jaringan internal. Tantangan struktural meliputi keterbatasan modal (40%), persaingan tinggi (30%), minimnya fasilitas (20%), dan tekanan regulasi (10%). Kondisi ini menegaskan perlunya tata kelola kota yang lebih inklusif, pengakuan terhadap sektor informal, revitalisasi pasar rakyat, serta kebijakan penataan ruang yang mendukung keberlanjutan ekonomi migran Papua.</p> <p>Penelitian ini menyimpulkan bahwa sektor informal tidak hanya menopang ekonomi masyarakat Yahukimo, tetapi juga membentuk interaksi sosial-budaya dan struktur ruang Kota Jayapura. Temuan ini memberikan kontribusi penting bagi studi perencanaan wilayah dan kota, khususnya terkait urban informalities, migrasi internal Papua, dan inklusivitas kebijakan kota.</p>2025-12-31T11:56:15+09:00##submission.copyrightStatement##