PELUANG PENERAPAN PRODUKSI BERSIH (STUDI KASUS PLTU AMAMAPARE TIMIKA)

  • Fian F Politeknik Amamapare Timika
Keywords: Pembangki Listrik, Pengelolaan Lingkungan, Produksi Bersih, Efisiensi

Abstract

Upaya perbaikan terhadap permasalahan lingkungan akibat kehadiran Pembangkit Listrik Tenaga Uap dikaitkan dengan adanya emisi pembangkit, produksi flyash dan bottom ash, pembuangan limbah cair dan blowdown, telah menjadi masalah global dan diharapkan kesadaran pelaku indsutri terhadap permasalahan ini dapat dimulai dari pelaku industri ditingkat korporat. Oleh karena itu upaya pengelolaan lingkungan hidup dalam sektor industri pembangkit listrik tenaga uap mutlak harus dilakukan, dan hal ini tentunya sangat erat kaitannya dengan efisiensi dalam proses produksi dimana dengan penerapan produksi bersih diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi peningkatan efisensi pada proses produksi baik secara ekonomi, teknis maupun lingkungan. Penelitian ini dilakukan di PLTU Amamapare PT.Puncakjaya Power Timika dimana PLTU ini telah beroperasi selama 17 Tahun dan menyediakan Operasi serta Pemeliharaan untuk fasilitas pembangkit listrik yang di pasok ke PT.Freeport Indonesia Papua dengan kapasitas operasi maksimum sekitar 235 MW. Pada penelitian ini evaluasi secara khusus dilakukan terhadap beberapa unit proses diantaranya boiler system, system air pendingin terbuka, demineralization system, lime handling dan system slaker. dimana metode yang digunakan adalah action and research. Hasil penelitian ini berupa upaya penghematan penggunaan air penambah, pengaturan blowdown untuk cooling tower dan boiler blowdwon, penghematan anti scale dan asam sulfat, pemanfaatan kembali slurry kapur, debu dust collector, limbah hasil regenerasi dan limbah backwash multi media fileter, dimana dari keseluruhan upaya yang dilakukan terjadi penghematan yaitu Rp. 2,832,960/hari dengan mengoptimalkan pengaturan boiler blowdown. Rp. 1,090,320 /hari dari pemakaian bahan kimia anti scale dengan mengoptimalkan pengaturan cooling tower blowdwon. Rp. 7,976,800 / bulan dari pemakaian kembali slurry kapur yang over flow dan Rp. 3,988,400 /hari dari pemakaian kembali debu kapur dari dust collector. Terjadi efisiensi dalam penggunaan air penambah cooling tower sebanyak 1176 M3 air/bulan dan Rp 14,784,924 /unit/bulan untuk efisiensi pemakaian asam sulfat untuk pengaturan pH cooling tower.

Published
2019-12-12
Section
Articles